Tekad si Tukang Sablon

E-mail Print PDF

Pernah menjadi tukang sablon dan kuli bangunan. Bermodal tekad bulat, dia terjun ke dunia konsultan yang mengantarkannya ke jalan kesuksesan.

Sewaktu muda, Firdaus Agus harus menerima kenyataan pahit. Orang tuanya tak mampu lagi membiayai sekolahnya. Jika ingin tetap sekolah, dia harus mencari duit sendiri. Tapi hal itu tak membuat niatnya untuk terus sekolah surut. Firdaus bertekad bagaimana pun caranya dia harus tetap sekolah.

“Hidup saya dulu sulit, dari situ saya belajar bagaimana harus Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri, red) mandiri, tidak lagi menggantung hidup kepada orang tua,” kenangnya.

Lantas Firdaus pun mencari akal. Dia memilih bekerja dengan pamannya yang pemborong bangunan. Hasilnya cukup untuk membiayai sekolahnya. Bahkan dari sana dia pun belajar menjadi seorang pemborong yang mengerjakan proyek bangunan. Dengan tekad kelak bisa mengubah nasib. Inilah yang menjadi modal Firdaus menapak sukses.

Setelah tamat SMA di Kuantan Singingi (Kuansing), Firdaus memilih kuliah di Fakultas Teknik Universitas Islam Riau (UIR) pada 1982. Lagi–lagi, dia terbelit masalah dana. Namun, ia tak pantang menyerah. Sembari mengembangkan potensi diri ia pun memilih bekerja serabutan guna membiayai kuliahnya. Mulai dari kuli bangunan, menjahit sampai jadi tukang sablon.  

“Yang paling berkesan adalah saat menjadi tukang sablon, karena harus mendesain gambar permintaan pelanggan. Tanpa disadari itulah yang membantu mengembangkan potensi dalam diri saya untuk menjadi konsultan.”

Berkat menyablon, bukan cuma mampu membiayai kuliah dan hidupnya tapi juga mendatangkan rezeki lain. Firdaus ditarik menjadi menjadi staff di Riau Engenering, sebuah perusahaan kontraktor yang menangani pembangunan di UIR. Di sanalah ia mulai berkenalan dan merintis karir di dunia konsultan. 

“UIR banyak berjasa dalam hidup saya, bukan cuma memberi ilmu formal, tapi juga memberi pengalaman hidup dan bekerja sebagai konsultan hingga saya sampai seperti sekarang,” katanya. Berkat keluetannya, lambat laun profesinya sebagai konsultan kian terasah. Berbagai proyek di UIR pun ia tangani sampai sekarang.

Jiwa entrepreneur-nya melihat peluang besar di bisnis konsultan. Dan pada 1994 ia memutuskan untuk membuka perusahaan konsultannya sendiri yang bernama CV Reka Jaya Arsitek Konsultan. Berbekal  pengalaman semasa di Riau Engenering, ia menahkkodai Reka Jaya hingga kini menjadi perusahaan konsultan besar di Riau. Maka wajar banyak proyek Pemda di Riau ia tangani. Pada 2007 ia merubah nama Reka Jaya menjadi PT Arum Jaya Gemilang.

Sejak mendirikan Reka Jaya, Firdaus bergabung dengan INKINDO. Awalnya cuma sekadar formalitas saja karena setiap konsultan harus menjadi anggota INKINDO. Salah satu syarat melapangkan jalan untuk menggenggam proyek. “Tapi sekarang malah saya merasa INKINDO jadi bagian hidup saya,” imbuhnya.

Karir Firdaus di kepengurusan INKINDO Riau dimulai sebagai sejak menjadi koordinator daerah pada 2002. Lalu menjadi sekretaris pada periode 2006-2010. Kemudian menjadi Ketua DPP INKINDO Riau periode 2010-2014.

Faham dengan masalah konsultan di lapangan, Firdaus menilai harus ada terobosan yang dilakukan organisasi yag lahir 20 Juni 32 tahun silam ini. Dia menilai, INKINDO harus mampu mencetak konsultan lokal yang mampu menerjemahkan kebutuhaan pasar. Bukan konsultan yang mengandalkan proyek pemerintah semata. “Konsultan lokal kalah saing dengan konsultan luar karena kalah kompetensi,” katanya.     

Firdaus lantas membuat terobosan. Dia merintis cara untuk meningkatkan kompetensi anggota INKINDO dengan menggandeng perguruan tinggi lokal. INKINDO juga akan menggandeng Pemda untuk menggelar berbagai pelatihan dan pembinaan dengan begitu kompetensi para konsultan lokal makin meningkat.

“Bicara konsultan tentu bicara kompetensi. Bagaimana konsultan mau dipercaya kalau tidak kompeten. Dan kompetensi itu datangnya dari pengalaman serta dunia akademis. Makanya kami coba kerjasama dengan kampus bagaimana supaya kompetensi konsultan di daerah meningkat dan tak kalah bersaing,” terangnya.

INKINDO, lanjutnya, juga harus berupaya meningkatkan serta memperkuat jaringan kerja terutama dengan pihak pemerintah daerah yang selama ini memang menjadi mitra bisnis bagi konsultan.

Menurut Firdaus, minimnya para konsultan yang bergerak di sektor non-konstruksi juga jadi persoalan. Mayoritas anggota INKINDO Riau masih bergerak di sektor konstruksi.

“Banyak proyek justru bergerak di sektor non konstruksi. Makanya, anggota INKINDO harus menangkap peluang ini dengan mulai berpikir untuk bergerak di sektor non konstruksi sehingga bisa berkembang,” tandasnya.

Jodoh dengan Dunia Pendidikan

Firdaus jatuh cinta dengan dunia pendidikan. Dia sadar dunia pendidikan kunci untuk meraih kesuksesan. Dia rela meluangkan sebagian waktunya untuk mengajar. Padahal upah dari mengajar tidak seberapa dibanding mengerjakan proyek.

“Tapi bukan itu yang saya cari. Ada kenikmatan tersendiri jika mengajar, menuangkan pikiran lewat berdiskusi dengan kaum muda. Kita berkontribusi dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik,” tutur alumni IPB Bogor ini.

Hingga kini Firdaus tercatat sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Pekanbaru dan Sekolah Tinggi Teknologi Unggulan Swarna Dipa Kuantan Singingi. “Mungkin karena saya lahir pas hari pendidikan nasional, makanya saya gak bisa lepas dari dunia pendidikan, jadi bisa saja ini yang dinamakan jodoh,” ujarnya tertawa. (*)

Bio File

Nama               : Ir. H Firdaus Agus

T/T Lahir          : Gaung Anak Serka, Indragiri Hilir, Riau, 2 Mei 1962  

Istri                  : Hj Rosmely

Anak                : 1. Gaung Muhammad Impun

                          2. Arung Gilang Ramadhan

                          3. Salam Yusuf Gemilang

Jenjang Studi   : SD Negeri 02 Teluk Pinang (1975);

                          SMP Negeri Teluk Pinang (1979);

                          SMA Negeri Benai Kuansing (1982);

 

  S1 Fakultas Teknik Universitas Islam Riau (1991);

 

  S2 Magister Manajemen Pembangunan Daerah IPB Bogor (2006).         

Pekerjaan         : Staff di Riau Engenering (1982–1991);

 

  Direktur PT Arum Jaya Gemilang (sekarang);

 

  Dosen UIN Suska Pekanbaru dan STT Kuansing (sekarang).

Organisasi       : Sekretaris DPP INKINDO Riau (2006–2010);

 

  Ketua DPP INKINDO Riau (20102014);

 

  Pengurus Muhammadiyah Pekanbaru.

Zuprianto | Edited by Parlindungan   

TRANSLATE
Tekad si Tukang Sablon
Tekad si Tukang Sablon
 
 

 


 


 


 


 


Copyright © 2010 RiauBisnis.com Portal News
50 thn Bank Panin
Headline
  • Pause
  • Previous
  • Next
1/5
 

Majalah Venues Online