Lanjar, Menjadi Dokter Berkat Didikan Keras Sang Ayah

E-mail Print PDF

DR P Lanjar Sugiyanto, MARS, Direktur Eka Hospital Pekanbaru

Lahir pada 17 September 1963 di sebuah dusun kecil, Solo, Jawa Tengah, Lanjar kecil terus mengasah kemampuan dan potensinya. Dari awalnya ingin memenuhi keinginan orangtua menjadi guru, sampai akhirnya menjadi seorang dokter dan memimpin Eka Hospital Pekanbaru.

Dari kecil, Lanjar memang sudah berkeinginan menjadi seorang dokter. Pekerjaan mulia tersebut dinilainya memang sangat pas dengan karakternya yang suka menolong orang lain, meski orangtuanya menginginkan ia menjadi seorang pendidik.

“Biasalah kalau orang dulu, kalau dia guru, maka ia juga ingin nanti keturunannya juga bisa menjadi seorang tanaga pengajar,” katanya saat berbincang dengan riaubisnis.com beberapa waktu lalu di ruang kerjanya, di lantai 8, Eka Hospital Pekanbaru.

Menamatkan pendidikan dasarnya di sebuah SD di kampung halamannya, Lanjar kemudian melanjutkan pendidikannya di SMPN 1 di Sragen kemudian SMAN 2 di Solo atau Surakarta. “Setelah itu baru saya melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta,” tambahnya.

Keinginannya memang dari sejak awal menjadi dokter, meskipun kedua orangtua menginginkannya menjadi seorang guru. Bahkan, kata Lanjar, orangtuanya mengharapkan ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) agar bisa secepatnya mendapatkan pekerjaan. “Apalagi saya ini anak sulung dari 7 bersaudara, meskipun sebenarnya saya punya kakak, tapi sudah meninggal,” katanya.

Selain keinginannya sejak kecil untuk menjadi seorang dokter, namun faktor kesehatan dan seringkali berobat ke rumah sakit membuat keinginannya menjadi seorang dokter semakin besar.

Berbekal kemauan keras serta ditunjang oleh kemampuan akademisnya yang memang sangat baik, cukup dengan waktu 4 tahun saja, Lanjar menyelesaikan perkuliahannya di Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta.

Bahkan, setelah menamatkan studinya di UGM, Lanjar sebenarnya ditawarkan untuk menjadi tenaga pengajar alias dosen di almamaternya. Namun, sayangnya keinginan tersebut ditolaknya dengan alasan ingin melayani dan mengobati orang lain sebagai seorang dokter.

Keinginan tersebut membuatnya berniat bekerja di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Namun tidak lama, panggilan hatinya membuatnya berniat keluar dari Yogyakarta menuju daerah lainnya.

“Tujuan saya waktu itu adalah Jakarta, padahal saya belum pernah ke Jakarta. Padahal sampai saya lulus kedokteran saya belum pernah ke Jakarta,” terangnya.

Dari Jakarta ke Bukittinggi

Berangkat dengan kerata api pada waktu ini, Lanjar muda berusaha mencari peruntungan baru, akhirnya setelah beberapa waktu melakukan pencarian, Lanjar akhirnya diterima di sebuah klinik lepas pantai milik PT Pertamina.

Bekerja di perusahaan minyak nasional tersebut, Lanjar bepergian ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Laut Jawa, Laut Seribu, Selat Malaka dan daerah lainnya. Sembari bekerja di sana, Lanjar juga mengikuti tes pegawai negeri di Jakarta sebelumnya.

Petualangan Lanjar rupanya belum usai, habis dari Pertamina, pada tahun 1989 Lanjar akhirnya menginjakkan kakinya di Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat, tiga tahun di negeri urang minang Lanjar mengahabiskan waktu dengan bekerja di Rumah Sakit Ahmad Mukhtar.

Usai dari Bukittinggi, Lanjar akhirnya kembali ke Ibukota Jakarta, waktu itu Ia berencana untuk melanjutkan studinya dengan mengambil spesialis. Tapi karena belum punya biaya yang cukup, Lanjar akhirnya mengurungkan niatnya mengambil spesialis dan memutuskan untuk bekerja di RS Karolus di Jakarta.

Usai dari Karolus selama satu tahun, Lanjar pun diterima di RS Mitra Keluarga, bekerja di rumah sakit swasta, Lanjar pun melepaskan statusnya sebagai PNS. Lama berkarir di Mitra Keluarga, Lanjar malah diminta untuk menjadi Manager Medis di RS tersebut.

“Hampir 10 tahun Saya menghabiskan waktu di Mitra Keluarga, baru setelah itu Saya melanjutkan pendidikan S2 Manajemen RS di FKM Universitas Indonesia,” jelasnya.

Usai dua tahun kuliah S2 di UI, sekitar tahun 2000, Lanjar akhirnya ditawari untuk memimpin sebuah rumah sakit swasta di Bogor, namanya RS Bina Husada. Berkat tangan dinginnya, RS Bina Husada yang awalnya hanya RS kecil menjadi RS yang ramai dikunjungi.

Bergabung dengan Sinar Mas

Puas bekerja di Bina Husada, Lanjar akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Sinar Mas Group, apalagi menurutnya pada waktu itu Sinar Mas berniat mengabdikan diri memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan membangun dua rumah sakit, salah satunya Eka Hospital Pekanbaru.

Lanjar mengaku ikut membangun Eka Hospital Pekanbaru mulai dari awal, mulai dari melakukan pembangunan secara fisik hingga melakukan rekrutmen tenaga medisnya.

“Eka Hospital datang ke Pekanbaru ingin menjadi jaringan penyedia layanan kesehatan yang unggul yang bisa melayani masyarakat dengan tulus dan sepenuh hati. Kita datang dengan pusat pelayanan yang berbeda,” tambahnya.

Menurut Lanjar, kehadiran Eka Hospital juga untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia khususnya di Pekanbaru dan Riau dalam usahanya mencari pelayanan kesehatan yang lebih baik dan memuaskan.

Pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kepentingan pasien dengan memberikan pelayanan kesehatan paripurna dari ahli-ahli kesehatan yang terbaik dan juga ditunjang dengan peralatan kesehatan yang canggih dan modern.

Ada beberapa kelebihan Eka Hospital yang menurut Lanjar berbeda dengan rumah sakit yang selama ini ada di Pekanbaru dan daerah lainnya di Indonesia. Khusus di Eka Hospital selain sistemnya yang sudah bersifat komputerisasi juga ditopang oleh dokter-dokter yang siap setiap waktu.

“Sebagai besar tenaga dokter adalah dokter purna waktu ataupun full time berada di Eka Hospital dan tidak dibenarkan untuk praktek di tempat lain. Karena Eka Hospital lebih mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien,” jelasnya.

Saat ini, menurutnya, ada sekitar 30 orang dokter yang sifatnya full time yang bekerja di Eka Hospital. Kebijakan seperti ini menurutnya hanya berlaku di Eka Hopsital, meskipun dokter-dokter tersebut berada di rumah sakit swasta.

Selain itu menurut Lanjar, keberadaan Eka Hopsital memberikan nuansa yang berbeda dengan rumah sakit lainnya. Sehingga Eka Hospital dalam memberikan pelayanan, setiap pasien di sediakan setiap orang satu kamar pasien.

“Fasilitas yang diberikan selain punya standar yang sangat bagus, namun juga ditawarkan dengan harga yang sangat terjangkau. Sehingga memberikan kenyamanan bagi pasien yang berobat ke Eka,” tambahnya.

Eka punya misi, mengutamakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan, menyediakan tanaga medis profesional, Eka punya semua dokter spesialis, bagi Eka Hospital waktu adalah nyawa, selain itu punya manajemen yang sangat baik.

Banyak hal yang menurutnya menjadikan Eka Hospital berbeda dengan rumah sakit kebanyakan. Bahkan berdasarkan kuisioner yang dilakukan manajemen setiap harinya, hasil yang didapat hampir 80-90 persen lebih tingkat kepuasan yang dirasakan pasien yang pernah berobat di Eka Hospital.

Saat ini menurut Lanjar, Eka Hospital sudah terakreditasi dengan standar terbaik secara nasional. Eka juga menggunakan konsultan internasional yaitu JCI yang tujuannya untuk mencapai standar global.

“Artinya kalau mau berstandar global harus mendapatkan akreditasi internasional tersebut, saat ini di Indonesia baru satu rumah sakit yang memiliki standar tersebut, kita harapkan Eka akan menjadi yang kedua.

Bahkan menurut Lanjar, dalam upayanya menjadikan Eka Hospital sebagai rumah sakit berstandar global, pihaknya mendatangkan langsung ahli dari New York, Amerika Serikat, untuk membina dan mengajarkan langsung bagaimana operasional rumah sakit yang sebenarnya.

Lanjar sangat berharap nantinya, dengan usaha yang sudah dilakukan, manajemen berharap Eka Hospital nantinya mampu menjadi kebanggaan masyarakat Riau dengan pelayanannya yang prima dan berstandar global.

Pihaknya bahkan menyambut baik dengan semakin dipercayanya Eka Hospital Pekanbaru oleh masyarakat Pekanbaru. Bahkan pejabat tinggi di Riau hingga Gubernur Riau dan keluarga mempercayai Eka Hospital sebagai rujukan.

Selalu Didukung Keluarga

Saat ini Lanjar punya keluarga kecil yang selalu mendukung setiap aktivitasnya, dikarunia dua orang anak, Lanjar mengaku sangat bersyukur. Baginya keluarga ibarat rumah. Tempat dimana Ia mencurahkan kasih sayangnya. Baginya keluarga adalah sesuatu yang teramat penting artinya.

Lanjar mengaku mengenal sang Isteri waktu masih berada di Yogyakarta, waktu itu Ia berumur sekitar 30-an. Namun pernikahannya dilangsungkan di Jakarta, karena memang sang isteri berasal dari Jakarta. “Keluarga saat ini memang berada di Jakarta,” katanya.

Meski usianya tidak lagi bisa dibilang muda, namun Lanjar mengaku orang tuanya masih ada dan dalam keadaan sehat, namun orang tua dari pihak isteri memang sudah tidak ada lagi. “Keluarga kandung saya tetap berada di Yogyakarta,” katanya.

Meskipun waktu kecil mendapat perlakuan keras dari keluarga, namun kepada kedua anaknya Lanjar mengaku tidak memberlakukan hal tersebut. Ia justru memberikan kebebasan bagi kedua anaknya untuk menentukan pilihan.

“Saya kira anak-anak sekarang berbeda dengan anak-anak zaman dulu, yang  pasti kita berharap Ia bisa lebih baik dari orang tuanya,” kata Lanjar.

Belajar Ikhlas

Apa yang didapatnya saat ini menurut Lanjar adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Secara jujur Lanjar mengungkapkan kalau apa yang sudah diperolehnya selaian adalah berkat kerja kerasnya juga karena ada yang telah menggariskan.

“Ya semua tergantung dalangnya, kita hanya bisa berusaha, namun tuhan juga yang nantinya bakal menentukan seperti apa,” kata pria yang gemar berolah raga ini.

Baginya, belajar ikhlas menerima setiap apapun yang sudah digariskan adalah salah satu cara untuk bisa memotivasi diri untuk bisa lebih baik lagi. Disamping juga berusaha untuk saling berbagi dan menghormati hak orang lain, dan tidak sombong. (*)

BioFILE

Nama

DR P Lanjar Sugiyanto, MARS

TTL

Solo, 17 September 1963

Anak ke-

1 dari 7 bersaudara

Isteri

Rosalia Purwanti

Anak

Angella Widyawati

Chintya Listyawati

Pendidikan

SD, SMP, SMA di Jawa Tengah

S1 FK Universitas Gajah Mada

S2 FKM Universitas Indonesia

Jabatan

Direktur Eka Hospital Pekanbaru

Mukhtar & Erfan | Edited by Rbc

 

 

TRANSLATE
Lanjar, Menjadi Dokter Berkat Didikan Keras Sang Ayah
Lanjar, Menjadi Dokter Berkat Didikan Keras Sang Ayah
 
 

 


 


 


 


 


Copyright © 2010 RiauBisnis.com Portal News
50 thn Bank Panin
Headline
  • Pause
  • Previous
  • Next
1/5
 

Majalah Venues Online