Sosoknya sederhana dan ramah, senyum yang diberikannya tak pelak membuat lawan bicaranya merasa enjoy saat berbicara dengannya. Itulah sosok seorang Adjat Sudrajat, Kepala PT Jamsostek Wilayah Riau I. “Saya memang tidak bisa marah, kalaupun bisa marah paling hanya nada bicara yang ditegaskan, itupun kalau pas tiap apel Senin pagi aja,” kata Adjat sambil tersenyum.
Toh, meski ia sifatnya yang low profile, tapi di mata para stafnya, Adjat dikenal tegas. “Bapak memang tidak pernah marah, orangnya selalu senyum. Tapi ia tegas. Makanya kami di sini nyaman dengan kepemimpinannya,” ungkap Sekretarisnya, Gita Maryati memberi penilaian.
Merintis karir dari nol membuat dirinya tak sombong dan mau mengayomi para bawahannya. Tapi jangan salah, Adjat bukanlah sosok yang lembek. Ia punya mental tangguh sebagai pekerja keras. Dengan modal kerja keras dan keuletannya itulah, akhirnya ia mampu mencapai pucuk pimpinan di Jamsostek Riau I yang membawahi Pekanbaru, Pelalawan dan Siak.
Tahun 1981, Adjat menamatkan SMA-nya. Kala kawan-kawannya melanjutkan studi ke bangku kuliah, ia lebih memilih untuk bekerja. “Awalnya saya memang ingin kuliah di Teknik Pertambangan, tapi karena gak lulus ujian masuk PTN (Perguruna Tinggi Negeri), ya saya akhirnya melamar pekerjaan, memilih untuk bekerja,” kenang suami Tri Nengsih ini.
Singkat cerita, lamaran Adjat pun diterima oleh PT Asuransi Sosial Tenaga Kerja (Astek) Cabang Cirebon (dulunya PT Astek merupakan cikal bakal PT Jamsostek). Meski mengawali karirnya di PT Astek sebagai office boy, tapi Ia tidak malu melakoni pekerjaan tersebut.
“Tidak masalah bagi saya, yang penting pekerjaan itu halal dan saya tak membebani keluarga,” katanya. Adjat mengaku banyak memetik pelajaran dari pekerjaannya sebagai office boy. Ia harus bekerja teliti dan telaten serta sigap dalam menyelesaikan tugasnya dengan pelayanan maksimal.
Selain itu, keteguhan hatinya juga terlihat dalam hal menutut ilmu. Kegagalannya masuk ke PTN tak membuat niatnya untuk kuliah padam. Ia tetap memegang teguh niatnya itu dengan bekerja sambil kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon. “Saya harus kuliah untuk masa depan saya,” tegas pria berdarah Sunda ini.
Pekerjaannya sebagai office boy, ia lakoni selama dua tahun. Tahun 1983, ia ikut tes menjadi tenaga marketing PT Astek Cirebon. Hasilnya, Adjat lulus. Dan posisinya pun melesat menjadi Staf Marketing.
Sejak itu karirnya terus menanjak. Mulai dari Staf Keuangan (1987), lalu dipromosikan sebagai Kepala Bidang Operasional dan Pelayanan PT Astek Cabang Cirebon (1993), Kepala Bidang Pemasaran PT Astek Cabang Bogor (2004). Dan sejak 2009 ia dipromosikan menjadi Kepala Kantor Jamsostek Wilayah Riau I.
Meski sudah malang melintang berkarir di Jamsostek, tapi ia tetap rendah hati. Ia merasa semua pengalamannya mulai dari level bawah hingga ke top manager di Jamsostek harus dibagi dengan para anak buahnya. “Supaya mereka bisa termotivasi dan tidak patah semangat untuk bekerja. Inikan juga bagian dalam transformasi ilmu, bagus untuk perusahaan,” katanya sambil tertawa.
Sebenarnya, Adjat tak menyangka dirinya bisa bekerja di bidang Asuransi Ketenagakerjaan. Dulunya ia terobsesi bekerja di pertambangan. Bahkan meski sudah berkarir di PT Astek, ia sempat diimingi-imingi tawaran bekerja di Pertamina. Tapi ditolaknya. Adjat lebih memilih bertahan di Jamsostek dan meninggalkan obsesinya itu.
“Saya tidak menyesal, di Jamsostek ada kenikmatan tersendiri karena bisa membantu para tenaga kerja dengan pelayanan yang diberikan. Saya ingin bermanfaat bagi banyak orang,” terang ayah lima anak ini.
Jamsostek diakuinya memang masih dipandang sebelah mata. Meski sebagai perusahaan negara, tapi masyarakat, kata Adjat, masih meragukan Jamsostek. Padahal, kata dia, Jamsostek sangat berguna bagi para pekerja karena melindungi dan meringankan beban pekerja. Sebenarnya Jamsostek tidak seperti perusahaan asuransi komersil lainnya. Tarifnya murah dan fasilitasnya lebih banyak bersifat sosial daripada komersil.
“Memang sayang, banyak pekerja yang masih belum mengerti fungsi kami. Padahal Jamsostek adalah perusahaan negara yang sengaja didirikan untuk meringankan beban para pekerja,” keluhnya.
Makanya ia akan terus mensosialisasikan keberadaan Jamsostek. Ia tak segan turun door to door dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya untuk mempromosikan Jamsostek.
”Itu sudah menjadi tugas kami. Dan kami akan terus melakukannya hingga para pekerja di Riau menjadi anggota Jamsostek dan bisa menikmati fasilitas yang diberikan Jamsostek sebagai perusahaan negara, seperti Jaminan hari tua, beasiswa anak, dan jaminan kesehatan,” terangnya.
Adjat percaya suatu saat kelak, Jamsostek akan menjadi bagian penting bagi para pekerja. Sehingga para pekerja pun tak enggan untuk menjadi anggota Jamsostek. ”Selama saya masih bisa bermanfaat melalui Jamsostek. Saya akan terus mensosialisasikan dan mengembangkan program-program Jamsostek,” pungkasnya.
Bergelut di Dunia Sepak Bola
Meski bergelut dengan kesibukannya di kantor, namun tidak membuat Adjat lupa akan hobi masa kecilnya. Sejak kecil ia mengaku gemar bermain sepak bola. Dan semasa bertugas di Cirebon, ia pernah menjadi manager di sekolah sepak bola Persatuan Sepakbola Indonesia Tjirebon (PSIT).
Belum cukup menjadi manager, ia juga menjadi Sekretaris Umum PSIT Cirebon. Adjat juga tak pelit untuk membantu PSIT. Ia rela merogoh koceknya sendiri demi menutupi kekurangan biaya operasional PSIT.
”Itu sudah konsekuensi, tapi sayang senang melakukannya karena membantu wadah pembinaan pemain-pemain yang suatu saat nanti mungkin akan menjadi pemain sepak bola terkenal,” tuturnya.
Bersama tim remaja PSIT, ia sempat mencicipi gelar juara sebuah kejuaraan liga mahasiswa di Jawa Barat. Para anggota timnya pun mendapat beasiswa untuk kuliah di Cirebon Institut Computer.
”Bagi saya ada kenikmatan tersendiri di dunia sepakbola, apalagi membantu anak-anak yang berbakat di sepakbola,” tuturnya.
Meski sudah bertugas di Pekanbaru Adjat pun tak bisa lepas dari dunia bola tendang. Walau tak lagi menjadi manager, tapi Adjat tetap menekuni olahraga tersebut dengan bermain futsal di tiap akhir pekan bersama para koleganya di Jamsostek.
”Boleh kapan-kapan kita latih tanding dengan wartawan ya,” ucapnya sambil tertawa.
Selain bermain futsal, di sela-sela kesibukannya Adjat juga gemar memancing sembari menikmati alam. Untuk menyalurkan hobinya yang satu ini, ia tak sungkan untuk masuk ke luar areal hutan dan perkebunan.
”Wah, kalau sudah begitu, rasanya kepenatan saya bekerja bisa hilang, dan kembali termotivasi untuk terus bermanfaat bagi orang banyak,” ucap pria kelahiran Jakarta ini. (*)
BioFile Adjat
Nama : Adjat Sudrajat
TTL : Jakarta, 12 Desember 1961
Istri : Tri Nengsih
Anak : 1. Whidi
2. Whibisana
3. Cristaldy
4. Amelia
5. Daffa
Pendidikan : SD Cendrawasih Cirebon
SMP Negeri 1 Cirebon
SMA Negeri 2 Cirebon
FE Univ. Swadaya Gunung Jati Cirebon
Hobi : Sepakbola, Futsal, Tenis
Motto : Jangan pernah berhenti dan terus semangat dalam berkarya
Organisasi : Sekretaris Umum Persatuan Sepakbola Indonesia Tjirebon (PSIT)
(2002-2004 dan 2005-2009)
Zuprianto | Edited by Mukhtar



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






