Birokrat ulung dengan segudang pengalaman. Tergugah kondisi masyarakat Rokan Hulu, ingin mengabdi di negeri seribu suluk. Lantunan musik bernada slow terdengar mengalun ringan. Nuansa melayu kental terasa menghiasi seisi ruangan. Tak jauh dari pintu masuk, Joni Irwan, si empunya ruangan itu, terlihat tengah asyik mengayunkan tintanya pada dokumen yang menumpuk di atas mejanya.
“Apa yang mau dibahas nih, maaf saya baru bisa menemui adinda sekarang,” ucapnya santun. Meski sibuk, tapi Joni yang kala itu memakai batik Korpri terlihat masih fresh. Padahal saat itu riaubisnis.com bertandang pada jam-jam rawan karena memasuki waktu pulang. Sebagian besar PNS di lingkungan Pemprov pun sudah beranjak pulang. Pergi meninggalkan pekerjaannya untuk dilanjutkan esok hari. Tapi tidak bagi Jhoni.
“Saya tidak mau menunda-nunda pekerjaan. Kalau bisa diselesaikan hari ini, ya saya selesaikan,” ucapnya tegas.
Joni Irwan memang bukan seorang birokrat ecek-ecek. Meski umurnya masih muda tapi ia sudah pernah mengecap berbagai posisi strategis di jajaran Pemprov Riau. Mulai dari Kepala Biro Umum Setdaprov Riau, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Riau hingga kini menjadi Asisten III Setdaprov Riau. Tak kurang dari 14 badan dan dinas sektoral di wilayah kerja Provinsi Riau dibawah koordinasinya sekarang.
Tapi, di balik itu, banyak orang yang mencibir. Mereka memandang kesuksesannya itu adalah campur tangan sang kakak ipar, Rusli Zainal yang notabene adalah orang nomor satu di Negeri Lancang Kuning.
Tapi Joni tak ambil pusing. Ia tak menghiraukan cibiran orang padanya. “Biarkan orang memandang begitu, saya tetap bekerja keras dengan ikhlas untuk kemajuan masyarakat Riau. Karena kesuksean seseorang bukan campur tangan manusia melainkan Yang Maha Kuasa,” tegasnya. “Dan saya tak pernah
meminta-minta jabatan pada bang Rusli.”
Joni mengakui, berkecimpung di dunia birokrasi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan baik. Dan menjadi Kepala Disbudpdar Provinsi Riau adalah pengalaman paling berharganya di dunia birokrasi.
Saat itu, dia banyak belajar tentang banyak hal. “Waktu itu, saya harus berpikir bagaimana mengembangkan industri pariwisata di Riau padahal basic keilmuan saya adalah hukum, jadi wajar saja kalau awalnya saya ragu bisa menjalani amanah itu, ” akunya. Tapi Joni tetap berikhtiar menjalankan amanatnya itu.
“Ternyata saya banyak belajar bagaimana me-manage permasalahan. Seorang Kepala dinas kan berfungsi manajerial. Yang penting ia mampu dan mengerti bagaimana memecahkan masalah dengan tepat. Untuk masalah teknis berikan kepada staf teknisnya,” paparnya
Joni pun lebih peka terhadap pelestarian budaya tradisional Riau yang kini mulai ditinggalkan. Budaya dan pariwisata, kata dia, ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Perlu kebijakan yang inovatif dan berkelanjutan untuk melestarikan budaya dan mengembangkan pariwisata. Agar budaya tradisional Riau tak hilang, semua pihak juga harus terlibat untuk melestarikannya.
“Jadi bukan cuma tanggung jawab pemerintah saja,” tegas alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta ini.
Joni menambahkan, mengembangkan industri pariwisata di Riau tak bisa hanya mengandalkan program sporadis. Harus berkelanjutan dan sinergis. Dan pemerintah kabupaten/kota dituntut sangat berperan aktif.
“Kalau hanya mengdandalkan (pemerintah, red) provinsi tentu tidak akan berjalan maksimal. Karena anggaran dananya terbatas. Perlu upaya yang lebih nyata dari (pemerintah, red) kabupaten/kota dengan alokasi anggaran dana yang proprosional. Jadi harus dikeroyok bareng-bareng,” katanya.
Ingin Bangun Kampung Halaman
Meski lahir di tanah Jawa, tapi Joni punya silsilah keturunan Rokan Hulu (Rohul). Ia adalah putra dari seorang tokoh Rokan Hulu, Ismail Suko. Makanya ia punya kesan tersendiri melihat negeri seribu suluk itu.
Joni mengakui, ia kerap disambangi masyarakat Rohul dari berbagai kalangan. “Mereka datang kepada saya menyampaikan uneg-unegnya tentang kesejahteraan masyarakat di sana. Mereka juga minta saya maju di Pilkada Rohul,” katanya.
Awalnya, Jhoni tak percaya. Tapi lama kelamaan ia penasaran. “Kok bisa mereka datang dengan cerita yang sama ya, apa betul di Rohul itu masyarakatnya belum sejahtera dan terjerat belenggu kemiskinan,” gumamnya dalam hati.
Untuk membuktikannya, Joni pun turun ke perkampungan dan desa di Rohul. Di lapangan ia terkaget. Batinnya tersentak melihat kondisi riil masyarakat Rohul yang jauh dari sejahtera. “Ternyata betul, ada yang harus dibenahi di Rohul,” pikirnya. Nuraninya pun terpanggil untuk mengabdi kepada masyarakat Rohul.
Tapi niatnya itu ia pendam dulu. Berkali-kali Joni shalat istikharah, meminta petunjuk dari Sang Khalik. Setelah merasa mantap, ia pun meminta restu dari kedua orang tuanya. Dengan berbagai nasihat, kedua orang tuanya memberi restu. Hati Jhoni kian mantap tatka
la sang kakak ipar, Rusli Zainal, memberi lampu hijau kepada dirinya untuk maju di Pilkada Kabupaten Rohul tahun depan.
“Dari awal memang niat saya maju karena ingin membantu masyarakat Rohul. Tapi kalau rakyat Rohul tidak mengizinkan ya, saya tidak akan maju. Kalau saya kalah pun tidak masalah. Saya legowo. Saya ambil sisi positifnya saja, berarti masyarakat belum menginginkan konsep pembangunan dari saya,” ujarnya.
Sebetulnya, konsep yang ditawarkannya tak muluk-muluk amat. Ia hanya menekankan pentingnya Sumber Daya Manusia (SDM) lewat dunia pendidikan, pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang berbasis sektor usaha kecil. Serta pemerataan pembangunan antar daerah di Negeri Tuanku Tambusai itu.
”Rohul punya SDA yang sangat potensial cuma sayang tak dibarengi dengan SDM yang handal. Untuk membangun Rohul, semua golongan, suku dan komunitas harus dirangkul. Pemberdayaan ekonomi tempatan plus pendidikan yang memadai juga harus diutamakan,” jelasnya.
Bicara soal pemekaran daerah, Pria kelahiran Jakarta 47 tahun silam ini punya pandangan sendiri. Menurutnya, pemekaran daerah harus berdasarkan keinginan masyarakat. Bukan sekedar nafsu politik segelintitr elit saja. “Pemekaran daerah tidak masalah tapi harus dikaji secara tepat. Jangan sampai pemekaran daerah justru mubazir dan hanya dinikmati segelintir elit politik saja,” tuturnya.
Tak terasa adzan Maghrib berkumandang. Perbincangan pun terpaksa harus dihentikan. Si birokrat ulung itu lekas beranjak mengambil wudhu’, hendak menunaikan shalat untuk menghadap Sang Maha Pencipta. Tempatnya mengadu, berkeluh kesah dan memohon.
“Semua pekerjaan dan jabatan di dunia tak lebih baik daripada menghadap Sang Maha Pencipta dengan hati ikhlas dan lapang. Kepada-Nya lah saya meminta diberikan kekuatan dan petunjuk untuk menghadapi segala tuntutan kehidupan,” tutupnya. (*)
Zuprianto | Edited by Mukhtar



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






