Matanya menjurus ke langit-langit rumah. Sejenak ia hentikan makannya. Ia mencoba menerawang ke masa lalu, tatkala ia baru menggeluti dunia bisnis. “Ceritanya panjang,” ujarnya singkat kala riaubisnis.com memintanya bercerita tentang sejarahnya mulai berbisnis properti. “Kalau mau diceritakan agak lama nih.”
Kamis sore, di bulan November lalu, Pekanbaru hujan rintik-rintik. Namun, riaubisnis tetap melanjutkan perjalanan ke Rumah Makan Pondok Selais, di Jl Tuanku Tambusai, Pekanbaru. Sesampai di sana, sudah menunggu sang raja properti Riau, Rifayendi. Ya, wajar saja Yendi, sapaan akrabnya, disebut raja properti di Riau. Lewat PT Yepupa Perise Ramadhani, ia mampu membangun ribuan unit rumah di Riau khususnya di Pekanbaru. Dan kini, ia dipercaya sebagai Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Riau.
Pria kelahiran Pekanbaru ini memang sejak kecil sudah akrab dengan dunia bisnis. Sejak masa sekolahnya, ia sudah hobi berjualan. Semasa SMA, Yendi, sudah berjualan oli motor dengan omzet yang mencapai jutaan rupiah. Yendi ogah minta uang jajan kepada orang tuanya. ”Saya lebih bangga bisa mendapatkan uang dengan berjualan daripada harus minta sama orang tua,” cetusnya.
Saat kuliah pun ia tetap menggeluti dunia bisnis. Bahkan ia naik kelas denagn menjadi seorang supplier bahan bangunan untuk kontraktor. Berkat usahanya itu, ia mampu membiayai uang kuliahnya. Bahkan berkat usahanya itu pula ia bisa membantu orang tua dan saudara-saudaranya. ”Orang tua saya mendidik saya keras. Mereka tak ingin saya jadi anak manja yang bisanya cuma minta duit terus. Dan sekarang saya menikmati hasil kerja keras saya,” cerita Yendi.
Tahun 1988, Yendi memberanikan diri terjun ke dunia kontraktor dengan mendirikan perusahaan CV DIPO Alam. Perusahaannya itu awalnya hanya menjadi supllier barang-barang kebutuhan para kontraktor. Seiring berjalannya waktu, perusahannya berkembang menjadi perusahaan kontraktor.
Dunia kontraktor yang keras membuatnya harus ligat dalam mendapatkan proyek. Tak jarang, agar mendapatkan jatah proyek, ia harus banyak mengeluarkan ”insentif” untuk melobi pejabat pemerintah. Meski terbilang sukses menjadi suplier kontraktor, Yendi tak kerasan di dunia kontraktor. ”Dunia kontraktor itu panas, kadang membuat saya tak nyaman karena terkadang untuk dapatkan proyek harus melobi pakai uang jatah,” ujarnya. Merasa tak betah jadi kontraktor proyek pemerintah, Yendi pun mencari akal. Ia melihat beberapa koleganya yang sukses menjadi developer atau pengembang perumahan. Yendi melihat peluang bisnis perumahan di Pekanbaru yang sangat potensial. ”Dengan laju pertumbuhan penduduk yang pesat d Pekanbaru, tentunya tingkat permintaan perumahan pun akan meningkat,” pikirnya kala itu.
Babak baru kembali dimulai, Yendi pun merambah bisnis perumahan dengan mendirikan perusahaan Developer bernama PT Yepupa Perise Ramadhani di tahun 1992. ”Saya lebih memilih menjadi developer karena lebih banyak manfatnya, sekalian bisa beribadah dengan membantu banyak orang yang tak memiliki rumah,” kata alumni Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning ini.
Di awal berbisnis jadi developer, Yendi sempat menemui kesulitan. Ia susah mendapatkan akses modal ke perbankan. Minimnya pengalaman dan kenalan membuatnya sering ditolak perbankan. ”Pernah saya ajukan kredit ke bank tapi ditolak karena proposalnya cuma foto copy-an, maklumlah dulu saya ngak berpengalaman di perumahan,” ujarnya sembari tertawa.
Bahkan, akibat minimnya modal, perusahaannya sempat mandeg. Alhasil, di awal berdirinya, Yepupa belum membangun satu perumahan pun. Tapi bukan Yendi namanya kalau menyerah begitu saja. Ia mencari akal untuk menembus perbankan. Jalan pintas pun diambil Yendi. ”Saya putuskan harus tembus langsung ketemu kepala bank, kalo gak begitu susah,” kenangnya. Dan saat itu Bank Tabungan Negara (BTN) yang fokus menggarap bisnis perumahan jadi bidikan utama Yendi.
Singkat cerita, dengan bantuan seorang koleganya, akhirnya ia berhasil menemui H. Rusamsi, Kepala BTN Cabang Pekanbaru kala itu. ”Saya ketemu pas main golf. Kebetulan beliau suka main golf dan ngerasa cocok dengan saya. Kami jadi sering ngobrol. Dan Waktu itulah saya ceritakan proposal saya yang ditolak oleh staffnya,” ujarnya. Gayung pun bersambut. Rusamsi memberikan sinyal positif. ”Nanti saya urus, sekitar 2 hari saya kabari lagi. saya usahakan ini bisa terealisasi,” ujar Yendi menirukan perkataan Rusamsi kepadanya kala itu. Rusamsi menepati janjinya. Akhirnya, kredit BTN Pekanbaru pun mengucur ke Yepupa. ”Sekitar awal tahun 1994 saya dapat kredit pertama kali sekitar Rp 300 juta dari BTN. Dan itu saya gunakan untuk bangun perumahan Kutilang Sakti di Panam,” ungkap ayah 4 anak ini. Dengan dana itu Yepupa membangun 58 unit rumah di Perumahan Kutilang Sakti Panam. Setelah itu, jalan Yendi pun terasa lapang. Kini, berkat reputasinya sebagai pengembang yang sukses, tanpa kesulitan Yendi bisa mendapatkan kredit dari bank. ”Yang penting jujur dan komitmen kepada mitra bisnis kita,” tegasnya.
Meski punya talenta, tapi tak selamanya Yendi berhasil menggeluti dunia bisnis. Saat krisis moneter mengguncang, pertama kali tahun 1997. Dan kala itu bisnis properti anjlok dan banyak developer gulung tikar. Melihat kenyataan itu, Yendi pun memutar otak. Ia putuskan rehat sejenak dari bisnis properti. Dan beralih menjadi kontraktor kembali.
“Terpaksa, kalau gak usaha saya bisa tutup,” kenang mantan Sekretaris REI Riau ini.
Meski begitu, Yendi terus menunggu peluang untuk come back ke dunia developer. Seiring pulihnya ekonomi, kala itu bisnis properti pun kembali menggeliat. Berkat itu, tahun 1998, Yendi pun putuskan come back. Dengan berbekal pengalaman, ia mulai membangun usahanya kembali. Kematangannya terbukti membuat usahanya lebih kuat lagi. Ia mulai membenahi secara manajemen perusahaannya. Dan juga memberikan pelayanan yang lebih optimal kepada mitra bisnisnya. “Dengan begitu usaha kita pun terasa lebih lapang dan sukses,” ujarnya. Yendi mengakui, punya strategi ampuh dalam menjalankan bisnis propertinya. “Pertama, Kita harus jujur, buktikan janji-janji kita kepada mitra bisnis kita,” tegasnya. Kedua, lihat market yang potensial. Dengan mampu melihat market yang potensial, maka developer bisa mencari peluang ekspansi usaha. ”Dan tak akan bermain dalam market yanh penuh melulu.” Berikutnya, jangan asal beli lahan. ”Konsumen inginkan lahan yang aman. Jauh dari sengketa, kalau lahan sengketa yang dibeli konsumen dirugikan dan develoer pun cepat atau lambat akan ditinggalkan,” saran Yendi. Yang berikutnya, kata Yendi adalah komitmen. Menurutnya, seorang developer harus punya komitmen yang kuat. Tak gampang menyerah hadapi kendala dan tantangan dalam mengembangkan bisnisnya. Terakhir, katanya, adalah manajemen keuangan yang profesional. ”Cash flow harus diatur. Jangan sampai uang perusahaan dimakan buat keperluan pribadi kita, meskipun kita pemiliknya,” tegasnya.
Dengan strateginya itu, Yendi berhasil menjadi pemain yang disegani di bisnis properti. Matang di bisnis properti, membuat naluri bisnisnya pun tertantang untuk menggeluti bisnis lainnya. Dan kini, ia siap merambah bisnis baru yang bergerak di perdagangan dan jasa. “Yang penting bagi saya bisnis itu adalah ibadah, membatu orang lain dan punya tanggung jawab sosial dengan lingkungan sekitar,” paparnya. (*)
Bidodata : Rifayendi
Lahir : Pekanbaru, 25 Februari 1966
Pendidikan : SD Negeri 26 Pekanbaru
SMP Negeri 5 Pekanbaru
SMA Negeri 1 Pekanbaru
Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning Riau
Istri : Dra. Hj Ilmiati Mag
Anak : M Rofiki
Alnof Alfayat
Farhan Durutul Adibah
Faddel Izzatullah
Pekerjaan : Direktur Yepupa Perise Ramadhani (1994-sekarang)
Direktur CV DIPO Alam
Organisasi : Ketua DPD REI Riau (sejak 2008-Sekarang)
Ketua Paguyuban Masyarakat Pangkalan Koto Baru Pekanbaru
Hobi : Badminton, Golf, Sepakbola.
Motto : kegagalan merupakan Pengalaman dan guru yang terbaik.
| < Prev |
|---|



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






