Sinar mentari baru muncul di ufuk timur. Tapi Fajar sudah asyik mengayuh tunggangan antiknya, sebuah sepeda ontel keluaran 1940-an. Ditemani lantunan musik dari sebuah radio zaman dahulu alias jadul yang tergantung di leher sepedanya, dia menuju Jl Diponegoro, Pekanbaru.
Sesampainya di sana telah menunggu beberapa angota CSOP, Community Sepeda Ontel Pekanbaru, nama perkumpulan para pecinta sepeda ontel di Pekanbaru. Fajar lalu parkirkan sepedanya di bibir trotoar tepat di muka rumah dinas Gubernur Provinsi Riau. Berjejer dengan sepeda ontel lainnya.
Jika anggota CSOP sudah berkumpul, deretan sepeda klasik mereka jadi pemandangan unik tersendiri bagi orang yang melihatnya. Meski sudah uzur, tapi sepeda-sepeda ontel itu kelihatan masih kokoh. Bodynya juga masih mulus. Hampir tak terlihat karat yang menodai.
Warga yang melintas pun tak mau ketinggalan momen. Ada yang memfotonya. Ada juga yang meminjamnya, sekadar untuk menjajal asyiknya menunggangi sepeda dengan tinggi lebih dari satu meter ini.
Saban akhir pekan, Fajar bersama para pecinta sepeda ontel lainnya berkumpul di sana. Areal car free day itu jadi tempat mangkal para anggota CSOP. Berkumpul, mengusir kepenatan setelah sepekan beraktivitas. Tapi agenda CSOP bukan sekedar kumpul bareng ngobrol ngalur-ngidul.
Tiap pekan, di awal bulan, organisasi yang berdiri sejak 2007 ini juga mengadakan arisan di salah satu rumah anggotanya. “Arisannya digilir, biar semuanya kebagian,” cetus Fajar, sang Ketua CSOP.
Sesekali mereka mengadakan tur keliling. Terkadang juga melakukan aksi penggalangan dana untuk korban bencana alam. “Ini memang organisasi tempat menyalurkan hoby, tapi bukan berarti kita lupa tanggungjawab sosial sebagai bagian dari masyarakat,” ujar Fajar.
Pertama berdiri, CSOP cuma beranggotakan 8 orang. Tapi lama kelamaan makin berkembang. Kini jumlah anggotanya sudah mencapai 130 orang. Mereka datang dari berbagai latar belakang profesi. Mulai dari karyawan biasa hingga pengusaha. Tapi yang jelas, mereka dipersatukan karena kecintaan terhadap sepeda berbodi tinggi yang jadi kendaraan primadona di pertengahan abad 20 ini
Menjadi anggota CSOP, syaratnya cuma satu, punya sepeda ontel. Toh, meski begitu rata-rata anggota CSOP justru punya lebih dari sebuah sepeda ontel. Fajar malah punya 4 unit sepeda ontel berbagai merek. Mulai dari merek Humberg, Simplex, Releigh, hingga Bouraq—Ontel paling tua yang dimilikinya keluaran 1936.
“Sepeda-sepeda itu warisan dari bapak saya, ada juga yang saya beli dari kawan. Semua saya pelihara dan saya jaga keasliannya,” katanya.
Fajar mengaku banggga dengan koleksi sepeda klasiknya itu. Bahkan, meski punya kendaraan bermotor, tapi dia lebih enjoy bepergian memakai sepeda kesayangannya. “Ada kesan berbeda yang mengasyikkan waktu naik Ontel,” tutur pria yang berprofesi sebagai wiraswasta ini.
Lain lagi dengan Profesor Munzir Hitami. Pembantu Rektor I UIN Susqa Riau ini mengoleksi 11 unit sepeda ontel dengan berbagai merek. Bahkan salah satu ontel miliknya sengaja didatangkan dari Belanda saat dirinya berkunjung ke Negeri Kincir Angin itu.
Munzir mengaku, sebagian aktivitas di masa mudanya dulu ia lakukan dengan memakai sepeda buatan Belanda dan Inggris ini. Makanya dia sangat mencintai dan tak bisa melepaskan ontel begitu saja. Terlebih sepeda tua ini di matanya punya nilai keunikan tersendiri dan termasuk langka karena sudah tidak diproduksi lagi.
“Dengan bersepeda, ada perasaan lega di hati, karena kita ikut melestarikan lingkungan. Sepeda kan tidak merusak lingkungan karena tidak berpolusi. Apalagi pakai sepeda badan sehat,” katanya.
Munzir pun tak malu menunggangi ontelnya untuk pergi mengajar. “Tiap hari Kamis kalau tak hujan saya pakai ini ke kampus,” ujarnya. Bahkan dia rela mengayuh sepedanya puluhan kilometer dari rumahnya hanya untuk berkumpul dengan para anggota CSOP lainnya.
“Kalau sudah ngumpul, stres karena pekerjaan, bisa hilang. Asyik juga ketemu teman-teman yang ngerti keunikan ontel. Jarang loh yang bisa seperti kami,” ungkap Munzir sambil tertawa.
Fajar mengaku, kalau sudah berkumpul, anggotanya satu sama lain merasa seperti keluarga. Apalagi banyak informasi yang bisa dibagi. Mulai dari berbagi tips tentang membangun usaha hingga info lowongan kerja.
Harus diakui, kecintaan anggota CSOP terhadap sepeda ontel patut diacungi jempol. Saking cintanya terhadap ontel, mereka tak mau menjual ontelnya meski ditawar dengan harga tinggi. Pernah suatu hari, Fajar didatangi seorang kolektor barang antik yang ingin membeli sepeda ontel miliknya. Tapi dia tak mau melepasnya meski diiming-imingi uang puluhan juta rupiah.
“Menjualnya sama juga menjual cinta saya, karena ontel sudah melekat di hati saya sejak dulu,” tegasnya.
Tak terasa, mentari pun mulai meninggi. Pertanda mereka harus segera beranjak pergi untuk menyusuri jalanan Kota Bertuah. Sambil memamerkan keunikan ontel plus cita rasa jadul yang tergambar lewat pakaian dan aksesoris lainnya yang mereka pakai. “Kami akan wariskan sampai ke anak cucu,” kata Fajar seraya mengayuh ontelnya beriringan dengan anggota CSOP lainnya.(*)
Zuprianto | Edited by Parlindungan



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






