Sebagai salah satu produsen minyak dan gas (migas) terbesar dunia, tak salah jika industri berbasis migas menjadi bagian dari Visi Ekonomi Indonesia 2025, sebagaimana disusun Kementerian Koordinator Perekonomian.
Potensi produksi minyak RI tersebar di seluruh kawasan, terutama Indonesia Barat. Cadangan minyak terbesar ditemukan di Provinsi Riau. Sedangkan gas alam, berada di Kabupaten Natunan, Riau. Selain dua kawasan itu, sumber daya mineral ditemukan di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Di masa mendatang, ada potensi besar bagi Indonesia untuk mengembangkan industri minyak dan menjadikannya industri bernilai tinggi seperti petrokimia. Industri ini telah memiliki posisi strategis karena produksi bahan mentah di industri hulu sangat produktif.
Industri minyak berpengaruh ke sektor lainnya seperti pengembangan industri kimia, pertumbuhan sub-sektor ekonomi lainnya, kawasan industri, transfer teknologi, peluang kerja, pengurangan biaya, penambahan devisa dan kenaikan pemasukan pajak bagi pemerintah.
Berita yang dilansir Inilah.com, Kamis (31/3/2011) ini, kontribusi sektor migas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Namun pada 2000-an, produksi minyak menurun karena produksi di Kalimantan alami penurunan. Hal tersebut sebagian besar disebabkan oleh tingkat eksplorasi dan temuan cadangan baru yang rendah.
Sebab itulah dalam Visi 2025, terdapat rencana pengembangan di Kalimantan yang masih memiliki potensi besar untuk peningkatan valuasi migas hingga US$1,3 miliar. Apalagi, tidak ada permintaan pengembangan infrastruktur yang mendesak meski akan ada peningkatan permintaan konstruksi pelabuhan, pembangkit tenaga listrik dan pelebaran jalan.(*)
Parlindungan | Edited by Rbc



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






