Dinas Koperasi dan Usaha kecil Menengah (UKM) Provinsi Riau mencatat, dari 4.865 unit koperasi yang ada di Riau, sekitar 30 persen di antaranya kini berlabel tak aktif.
“Masih banyaknya koperasi di Riau yang tidak aktif harus segera dicari jalan keluarnya. Untuk itu harus diberikan pembinaan dan pelatihan agar mendorong yang tidak aktif kembali aktif lagi,” ujar Wakil Gubernur Riau, Mambang Mit, saat membuka acara Sosialisasi dan Pembinaan Perkoperasian Bagi Camat se-Riau di Pekanbaru, Selasa (29/11/2011).
Mambang menilai, koperasi di Riau jika diberdayakan punya potensi besar. Dia mencontohkan beberapa koperasi besar di Riau yang mampu memberikan kesejahteraan kepaa para anggotanya. Yakni KUD Sawit Jaya di Kampar yang punya aset Rp 20 milar dengan opmzet mencapai Rp 131 miliar. KUD Tani Bahagia di Indragiri Hulu asetnya Rp 19 miliar dengan omzet Rp 60 miliar. Dan KUD Langgeng di Kuantana Singingi yang asetnya tembus Rp 215 miliar dengan omzet mencapai Rp 261 miliar.
“Sekarang saja jumlah anggota koperasi mencapai 600 ribu orang. Artinya sekitar 10 persen penduduk di Riau merupakan anggota koperasi. Jika ini diberdayakan maka bisa menimbulkan efek yang besar utamanya dalam mengentaskan kemiskinan dan mengurangi angka pengangguran di Riau,” kata Mambang.
Sementara Deputi Bidang Penguatan Kelembagaan Kementerian Kopetasi dan UKM RI, Untung Tri Basuki, menilai selain lemahnya SDM dalam menjalankan koperasi, sulitnya menembus akses pasar jadi masalah utama koperasi di Indonesia.
“Selain itu soal pembiayaan juga jadi masalah utama. Memang ini persoalan klasik yang dari dulu masih terjadi, maka harus dicarikan solusinya secara kontinyu lewat program pembinaan yang berkelanjutan dan menjalin kemitraan dengan lembaga pembiayaan,” ungkapnya.
Untuk menutupi lemahnya akses pembiayaan, Untung berharap, dukungan perbankan kepada dunia koperasi lewat pinjaman lunak dan proses yang mudah. Pasalnya, selama ini koperasi masih banyak yang kesulitan menembus akses perbankan karena terbentur syarat yang ketat dari bank.
“Secara nasional ada sekitar 53 juta orang yang tergabung dalam kopperasi, jumlah yang cukup besar jika diberdayakan tentunya punya multiplier effect yang besar. Untuk itu kita harap dukungan perbankan memberi kemudahan bagi koperasi mendapat akses pembiayaan dan memperbaiki manajerialnya,” jelasnya.
Kepala Dinas Koperasi&UKM Provinsi Riau, Raja Indra Bangsawan, mengungkapkan acara sosialisasi dan pembinaan koperasi bagi camat se-Riau sebagai bentuk pembinaan untuk mendorong masyarakat daerah sadar akan pentingnya koperasi. Sekitar 157 camat ikut pembekalan perkoperasian tersebut.
Dipaparkan Indra, kegiatan tersebut memiliki empat tujuan pokok. Pertama memasyarakatkan gerakan perkoperasian, kedua memaksimalkan peran camat untuk memberdayakan koperasi di wilayah masing-masing. Ketiga, mengarahkan camat merancang lahirnya-minimal satu koperasi unggulan di setiap wilayahnya dan keempat, mensosialisasikan program Kredit Untuk Rakyat (KUR).
“Peran Camat sangat penting untuk membina, mendorong dan memberdayakan potensi koperasi di daerahnya. Diharapkan dengan mengikuti pembekalan ini, para camat bisa lebih maksimal dalam mengupayakan peningkatan peran koperasi sebagai soko guru perekonomian daerah,” terang Indra. (*)
Zuprianto | Edited by Parlindungan



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






