Berangkat dari rasa prihatin dengan kondisi masyarakat sekitar, yang banyak mengalami kesulitan ekonomi sehingga tidak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya, sehingga terpaksa putus sekolah, maka Ia bertekat untuk bangkit dari dari kesulitan menuju kemakmuran ekonomi.
Demikian diungkapkan oleh H. Darwis seorang wirasusaha multiusaha dari Desa Kampar kecamatan kampar Timur Kabupaten Kampar. Pada awal tahun 1992 Ia memulai usaha dengan berdagang buah-buahan sepulang dari tempatnya mengajar di sebuah SMP Negeri.
Bermacam-macam jenis buah Ia jual. Bosan menjual buah milik orang lain akhirnya Ia mencoba bertanam buah sendiri. Dimulai dari buah manggis, Saat ini Ia telah memiliki bermacam-macam tanaman buah seperti Buah Naga, Jeruk Nipis dan lain-lain. Selain buah Ia juga mencoba beternak ikan Patin, membuka lahan Sawit dan beternak Sapi.
Untuk buah Manggis Darwis telah berhasil melakukan mengembangkan pemasaran hingga melakukan ekspor ke China. Sedangkan buah naga digunakan untuk konsumsi lokal. “Buah manggis sangat digemari di Luar negeri khususnya di China, Hongkong, Uni Emirat Arab dan lain-lain. Sehingga berapapun manggis tersedia di Riau ini dapat kita ekspor,” ujar Darwis.
Untuk sawit kini H. Darwis telah memiliki lahan sekitar 50 hektar dimana didalam lahan sawit tersebut Ia kembangkan biakan juga sapi Bali yang saat ini telah berjumlah 31 ekor.
Menurut Darwis Ia telah menjadi Debitur Bank Riau Kepri sejak tahun 1992 dengan modal pinjaman pertama sebesar Rp1,2 juta dan terus meningkat sehingga sekarang Ia telah diberi kepercayaan pinjaman sebesar Rp350 juta. “Sejak awal saya memang telah percaya dengan kredibilitas Bank Riau Kepri,” tutur Darwis.
H. Darwis mengaku saat ini omzet perbulan dari multi usaha yang Ia jalankan sebesar Rp200 juta. Dibantu sekitar 21 orang tenaga kerja, H. Darwis berharap usahanya dapat terus berkembang dan menyerap banyak tenaga kerja. Bapak dari tiga orang putra ini juga telah merasakan buah dari kerja kerasnya dengan telah berhasil menyekolahkan anaknya di Fakultas Kedokteran USU Medan. “Selain tiga orang anak kandung, saya juga memiliki beberapa anak yatim yang saya rawat dirumah,” kata Darwis.
Untuk menambah ilmu tentang cara bercocok tanam buah-buahan H. Darwis rela belajar hingga ke Thailand, dimana disana ilmu bercocok tanam buah Ia rasakan sudah sangat maju. “Kita harus banyak belajar ke negeri Gadjah Putih karena perkembangan ilmu pertanian dan perkebunan luar biasa maju. Biasanya satu tahun sekali saya kesana untuk belajar dan melihat kemajuan ilmu pertanian disana,” tutup Darwis. (*)
Zuprianto | Edited by Rbc



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






