Akibat kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, beberapa hari belakangan ini, antrian panjang kendaraan bermotor banyak ditemui di SPBU-SPBU Pekanbaru. Kelangkaan premium ini juga berdampak kepada langka dan mahalnya harga premium di tingkat eceran.
Menurut Doni, seorang Pengawas Harian SPBU PT Riau Sumber Lestari (seberang Pasar Pagi Arengka), sulitnya masyarakat dalam memperoleh BBM ini, terutama jenis premium, diakibatkan adanya pembatasan pasokan dari Pertamina. Dia juga mengungkapkan, bahwa pembatasan pasokan ini sudah terjadi dari pertengan November ini.
“Sebenarnya yang terjadi bukan kelangkaan. Hanya saja, ada pembatasan pasokan dari Pertamina,” ujar Doni kepada riaubisnis.com, Selasa (29/11/2011) di tempat ia bekerja.
Di SPBU PT Riau Sumber Lestari sendiri, pada pukul 11.30 WIB sudah tidak ditemui antrean pembelian BBM, karena stok BBM yang ada sudah habis. Padahal, pada pagi harinya, stok BBM masih ada.
Pihak SPBU pun terpaksa melakukan pembatasan pembelian. Menurut Dodi, hal ini dilakukan agar lebih banyak orang yang bisa mendapatkan BBM, terutama jenis premium.
“Karena ada pembatasan pasokan dari Pertamina, kita juga membatasi pembelian, supaya stok yang seharusnya untuk dua jam bisa habis dalam waktu empat jam. Untuk roda dua, kita batasi maksimal Rp 10 ribu, sedangkan roda empat kita batasi sampai Rp 100 ribu saja,” terangnya.
Tidak hanya premium, SPBU ini pun sudah kehabisan stok Pertamax pada siang hari tadi. “Saat ini yang ada hanya bio solar. Tapi, hari ini kita akan kedatangan pasokan lagi kok. Hanya saja, belum tahu datangnya jam berapa,” tambah Doni.
Sama dengan SPBU PT Riau Sumber Lestari, SPBU Jalan Soekarno-Hatta juga mengalami pembatasan pasokan BBM dari Pertamina. Menurut Napitupulu, pengawas SPBU, pembatasan ini dikarenakan jumlah konsumsi BBM tahun ini sudah melampaui jumlah konsumsi tahun lalu.
“Pembatasan ini sebenarnya terjadi karena jumlah konsumsi BBM tahun ini sudah melewati tahun lalu. Bahkan, jauh melewati jumlah tahun lalu,” ujar Napitupulu.
Napitupulu juga menambahkan, bahwa tidak ada penimbunan BBM. “Banyak yang kira ada penimbunan, padahal tidak. Malah kita senang kalau dalam sehari stok langsung habis. Premium itu, angka penguapannya tinggi, jadi, kalau kita biarkan satu malam saja, jumlah yang susut lumayan besar. Jadi kalau menimbun BBM kita malah rugi, bukannya untung,” tambahnya.
Eceran Relatif Mahal
Terbatasnya pasokan BBM di Pekanbaru ini membuat banyak warga yang membeli bensi eceran di pinggir-pinggir jalan. Pedagang bensin eceran pun menaikkan harga bensin yang mereka jual. Harga bensin eceran yang normalnya berkisar antara Rp 5.500 hingga Rp 6.000 pun naik ke menjadi Rp 8.000 hingga Rp 10.000.
Seperti Wita, contohnya. Wita terpaksa membeli bensin eceran pinggir jalan karena SPBU sudah kehabisan stok. “Saya terpaksa beli eceran. Saya sudah antri di SPBU, tapi kehabisan. Walaupun harga ecerannya Rp 8.000 tetap saja saya beli, dari pada motor saya terlanjur kehabisan bensin. Harganya memang agak mahal dari hari normal,” kata Wita.
Berbeda dengan Wita, Anggun, salah seorang konsumen, lebih memilih untuk mengisi motornya menggunakan Pertamax. “Dari pada beli eceran di pinggir jalan, saya mending beli Pertamax saja. Soalnya, harga eceran hampir sama dengan yang Pertamax. Jadi saya beli saja yang Pertamax. Takarannya kan sudah pasti pas, sedangkan yang eceran kan belum tentu pas takarannya,” ungkap Anggun.
Baik Wita dan Anggun sama-sama berharap, agar pemerintah dapat segera mengambil tindakan. Masyarakat meminta agar pemerintah dapat bertanggung jawab dan juga berharap Pertamina juga bisa memberikan penjelasan keterbatasan pasokan ini kepada masyarakat.(*)
Mg1│Edited by Parlindungan



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






