Nasib pariwisata daerah diyakini sangat ditentukan oleh stakeholder pariwisata yang ada di daerah tersebut. Riau misalnya, pengembangan pariwisata akan sangat bergantung kepada kebijakan pemerintah daerah dan pihak-pihak lain yang bergantung ke sektor ini. Kondisi terkini pariwisata Riau tertuang jelas dalam diskusi yang dikemas dalam acara Coffee Morning, Riau Tourism Outlook 2012 dengan tema Implementation and Good Value yang digelar oleh Sekolah Tinggi Pariwisata (STIPAR) Riau, Rabu (28/12/2011) di Hotel Furaya Pekanbaru.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau, Muhammad Yamin dalam paparannya mengungkapkan kalau kalau sesungguhnya Riau memiliki potensi objek wisata yang sangat besar, baik itu wisata alam, budaya maupun wisata buatan.
Berdasarkan data Disbudpar Riau 2011, saat ini terdapat sekitar 338 objek wisata di Riau, dimana 152 merupakan objek wisata alam, 130 merupakan objek wisata budaya serta 24 objek lainnya merupakan objek wisata buatan.
“Fakta ini merupakan peluang yang seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik, namun sayangnya kita memang belum bisa menanfaatkan secara maksimal karena ada beberapa hal juga yang menjadi kendala kita,” jelas Yamin.
Namun demikian diakuinya, pemerintah daerah telah banyak melakukan perbaikan-perbaikan terutama dalam mengelola kondisi pariwisata di Riau. Selain membangun infrastruktur juga melakukan peningkatan SDM yang berkualitas untuk mengelola objek-objek wisata yang ada.
Pemerintah daerah menurutnya sangat berperan penting dalam mengelola objek-objek wisata yang ada, karena bagaimana pun objek-objek tersebut berada di daerah. untuk itu menurutnya Pemda juga harus berkoordinasi dengan semua pihak dalam mengelola dan mengembangkan objek wisata yang ada.
Yamin juga menyoroti beberapa tantangan dan juga kendala yang dihadapi stakeholder pariwisata Riau saat ini. Salah satunya masalah kesadaran wisata masyarakat Riau yang menurutnya masih kurang. Hal ini juga perlu dibenahi terutama untuk menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII yang akan digelar di Riau.
“Banyak kendala yang saat ini terus kita benahi, tidak semata-mata soal infrastruktur, namun juga menyangkut SDM yang kita punya, namun kita juga melihat bahwa pelaksanaan PON nanti juga merupakan peluang yang sangat besar yang sayang jika dilewatkan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan kalau sektor pariwisata di Riau baru mulai digerakkan sejak 2006 lalu, dalam masa yang reletaif singkat Ia mengerti dengan kondisi wisata Riau saat ini. Namun hal ini menurutnya harus dikejar agar pariwisata di Riau tidak semakin tertinggal daerah lain di Indonesia maupun dari Negara tetangga.
Sementara itu Wakil Ketua Harian PB PON Riau, Zulkifli Saleh menekankan kalau pelaksanaan PON XVIII di Riau tidak akan terlepas dari sektor pariwisata. Karena bagaimana pun menurutnya sektor ini juga akan turut mensukseskan pelaksanaan PON di Riau nantinya.
“Olahraga tidak lagi dilihat hanya sebagai kegiatan sport semata, seperti halnya PON nanti, namun melalui PON kita bisa mengenalkan wisata, adat dan budaya serta potensi daerah kita kepada orang yang datang ke Riau,” ujarnya.
Pada PON nanti menurut Zulkifli, sekitar 17 ribu orang akan datang ke Riau dari seluruh penjuru tanah air. Hal ini menurutnya merupakan potensi besar yang yang bisa dimanfaatkan pengelola objek wisata di Riau, hampir semua kabupaten dan kota di Riau kecuali Kabupaten Kepulauan Meranti dan Rokan Hilir akan dipakai sebagai venue pertandingan nanti.
PB PON menurutnya juga berkoordinasi dengan semua pihak untuk ikut mensukseskan gelaran PON nanti. Salah satunya tentu saja dengan stakeholder pariwisata Riau, baik itu dengan pengelola objek wisata, dinas terkait bahkan dengan PHRI. “Ini kita lakukan agar PON nanti bisa sukses,” katanya.
Sementara itu Ketua Riau Tourism Boar (RTB) Fadlah Sulaiman dalam penjelasannya kembali mengingatkan semua peserta yang hadir akan pentingnya peranan promosi dalam mendukung tumbuh dan kembangnya pariwisata Riau. Karena tanpa itu semua pariwisata Riau tidak mungkin akan dikenal dan orang luar tidak akan mungkin datang jika tidak mengetahui.
Peran promosi ini menurutnya sangat penting sekali artinya dalam mengangkat potensi-potensi objek wisata yang ada di Riau hingga dikenal luas di tanah air maupun internasional. “Sayangnya kita belum menganggap penting hal ini,” katanya.
Di luar penomena Bono yang ada di Pelalawan, menurut Fadlah, objek wisata Riau masih sangat asing bagi orang-orang luar Riau, sehingga masih perlu promosi yang lebih gencar lagi. Selain itu Fadlah juga mengingatkan agar stakeholder pariwisata Riau jangan “alergi” dengan media. Menurutnya media adalah salah satu media promosi yang sangat efektif.
“Bagaimana mungkin produk kita bisa dikenal sementara kita sendiri tidak mau mempromosikannya,” ujar Fadlah.
Selain promosi, ada banyak hal juga yang seharusnya juga perlu dibenahi, selain infrastruktur, kemasan dari produk khas daerah juga harus lebih dipercantik, sehingga setiap orang yang datang ke Riau bisa menjadikannnya buah tangan dari Riau.
Apalagi menjelang pelaksanaan PON nanti, hal-hal yang menyangkut promosi, pelayanan dan lainnya harus memang lebih ditingkatkan, sehingga setiap orang yang datang ke Riau bisa puas dan senang.
Selama ini menurut Fadlah harus diakui kalau sektor pariwisata Riau masih jauh tertinggal dari daerah lain. Ketertinggalan ini harus dikejar agar tidak semakin tertinggal jauh. “PON adalah moment yang paling pas kalau memang kita ingin memajukan sektor pariwisata ini,” katanya.
Berdasarkan catatan yang diterima RTB dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2011, jumlah kunjungan wisatawan ke Riau mencapai 3,51 juta kunjungan sementara pengeluarannya mencapai Rp 2,31 triliun. Sementara secara nasional, jumlah kunjungan mencapai 237 juta kunjungan, sementara pengeluarannya mencapai Rp 144,05 triliun.
“Tapi kebanyakan kunjungan memang masih berasal dari wisatawan domestik, sementara untuk kunjungan wisatawan mancanegara masih sangat sedikit, masih kalah jauh dari Negara lainnya di Asia Tenggara. (*)
Mukhtar | Edited by Rbc
| < Prev | Next > |
|---|



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






