Satu Tahun Digunakan, Jalan Multiyears di Siak Rusak

E-mail Print PDF

Baru satu tahun digunakan, jalan proyek multiyears senilai lebih kurang Rp 1 triliun lebih, di Kabupaten Siak sudah banyak yang rusak. Akibatnya, tambal sulam ruas jalan, hasil pekerjaan 2006-2009 tersebut selalu dilakukan, namun kondisinya saat ini sudah memprihatinkan.

 

Bahkan ruas jalan yang retak dan hancur hampir merata di sepanjang jalan, seperti di Jalan Bundaran Jembatan Siak-Dayun dan Bundaran Jembatan Siak-Buatan II.

 

Akibat jalan retak dan hancur serta penggalian sebelum disemen, tidak sedikit pengguna jalan harus mengalami kecelakaan. Karena terjatuh dan terjerembab ke dalam lubang, yang sangat minim rambu dan tanda bahwa jalan harus digali kembali.

 

Di lapangan, jalan-jalan hasil pengerjaan proyek multiyears 2006-2009, yang harus mengalami perawatan lebih tersebut, di antaranya jalan dari Jembatan Perawang menuju Simpang Tiga Bukit Gondrong, Maredan.

 

Kemudian Jalan Koto Gasib menuju Kantor Bupati Siak, yang dulunya merupakan dua paket pekerjaan, Simpang Mengkapan menuju Sungai Rawa, Sungai Apit, Tumang Muara Kelantan I, Muara Kelantan I menuju Muara Kelantan II, di Kecamatan Sungai Mandau.

 

Keenamnya merupakan jalan, dua lajur yang baru dibuka, kemudian dilakukan pembangunannya mulai penimbunan, pengerasan, base dan aspal dalam masa empat tahun pengerjaan.

 

Selain itu, terdapat empat paket proyek lainnya yang merupakan jalan dua jalur atau empat lajur, dari Jembatan Siak menuju Dayun sepanjang 17 km, yang kondisinya sangat parah.

 

Bahkan pada ruas jalan tersebut, sejak selesai dibangun langsung dipasang portal, sehingga hanya dapat dilintasi kendaraan kecil, tapi kondisinya juga rusak dan tambal sulam selama kurun waktu dalam dua tahun terakhir.

 

Namun sayangnya, meski belum lama ditambal sulam, hasil tambalan juga tidak bertahan lama. Karena saat ini, jalan tersebut, sudah kembali mengalami keretakan aspal kembali, serta mulai berlubang pula.

 

Menyikapi kondisi tersebut, Kadis Pekerjaan Umum (Kadis PU) Kabupaten Siak Irving Kahar Arifin, Selasa (31/5/2011) di Siak Sriindrapura meminta, agar masyarakat dapat memaklumi kondisi itu. Karena pembangunan itu juga akibat desakan masyarakat, agar jalan yang baru dibuka kemudian ditimbun tanah, di base harus segera diaspal menghindari debu.

 

“Kita tidak bisa pungkiri, jalan itu merupakan jalan baru. Di masa-masa mengerjakannya tak cukup tiga setengah tahun, harus berubah menjadi jalan aspal. Apalagi dalam penggunaannya, sudah tak sebanding lagi kelas jalan, yang ada dengan daya muatan yang dibebankan,” terang Irving seperti dilansir Riau Pos, Rabu (1/6/2011).

 

Menurutnya, jalan yang dibangun dengan maksimal sumbu terberat (MST) 8 ton itu, juga dibangun di atas kondisi tanah yang sangat labil. Karena hampir sepanjang jalan itu, merupakan jalan dengan jenis tanah gambut yang cukup tebal.

 

“Makanya untuk membangun jalan fleksibel, sangat banyak tahapan yang harus dilakukan. Juga untuk perlakuannya perlu dana besar dan waktu cukup lama, sehingga jalan itu benar-benar kuat dan tahan,” ujarnya.

 

Sedangkan dalam pembangunan jalan multiyear, mulai dari rencana awal tiga tahun, kemudian ada kendala pergantian lahan di titik tertentu, dan memperhitungkan beratnya medan, maka diperpanjang setahun. Itupun, sebenarnya belum cukup waktu.

 

Untuk memberikan perlakuan cukup dalam mengerjakan jalan dengan kondisi tanah sangat labil. Tentu kata Irving, masyarakat tidak bisa memandang dari satu sudut pandang saja.(*)

Parlindungan | Edited by Rbc

TRANSLATE
Satu Tahun Digunakan, Jalan Multiyears di Siak Rusak
Satu Tahun Digunakan, Jalan Multiyears di Siak Rusak
 
 

 


 


 


 


 


Copyright © 2010 RiauBisnis.com Portal News
50 thn Bank Panin
Headline
  • Pause
  • Previous
  • Next
1/5
 

Majalah Venues Online