Kepala Bappeda Kabupaten Pelalawan Ir HT Zuhelmi MSi mengungkapkan, Pelalawan sudah menerima kunjungan empat investor bidang energi listrik. Namun belum satupun investor tersebut merealisasikan niatnya membangun infrastruktur listrik yang amat diperlukan.
Oleh karena itu Zuhelmi berpandangan, sebaiknya pemerintah daerah membeli sendiri mesin-mesin pembangkit agar persoalan listrik yang terjadi selama ini tuntas.
”Sudah sering investor datang, kalau tak salah empat kali yang saya tahu. Tapi mereka cuma ekspose-ekspose saja kemudian tidak ditindaklanjuti. Kalau pandangan saya kita bisa beli sendiri mesin pembangkitnya,” katanya seperti dikutip riaupos.com beberapa waktu lalu.
Ada beberapa alasan kenapa investor kurang menanamkan modal di sektor ini. Pertama karena posisi geografis dan sebaran desa terpencar-pencar. Akibatnya bila ingin menyalurkan listrik kepada lebih banyak desa, maka investasi dalam bidang pemasangan jaringan sangat mahal.
”Kondisi daerah kita terpencar-pencar, jadi kita kalau di jaringan. Jaringan yang sudah ada itu punya PLN, kalau Pemkab ya hanya di perkantoran ini saja ditambah beberapa kecamatan,” terangnya.
Selain itu, pertimbangan yang menyebabkan investor tidak jadi berinvestasi adalah karena lambatnya tingkat pengembalian investasi modal. Padahal setiap pengusaha menginginkan pengembalian modal usaha sesegera mungkin.
Yang jelas pengusaha mau investasi karena ada keuntungan. Yang terjadi dalam penghitungan sekarang adalah mengenai modal investasi terlalu tinggi. Di sisi yang lain dampaknya pengembalian modal semakin lama,” terangnya lagi.
Meski demikian dalam jangka panjang menurutnya, investasi listrik cukup menjanjikan. Hal ini karena Pelalawan memiliki sumber bahan bakar pembangkit dalam jumlah besar dan berjangka lama
Salah satunya adalah sumber gas yang dikelola PT Kalila di Langgam. Di samping itu masih ada beberapa titik sumber gas lain yang dimungkinkan bisa diekplorasi. ‘’Kita punya gas yang cukup besar, itulah salah satu faktor pendukung, walaupun memang daerah tidak punya kewenangan penetapan harga,” tuturnya. (*)
Mukhtar | Edited by Rbc



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






