Dumai jadi sentra pengolahan produksi crude palm oil (CPO) dan turunannya di Indonesia Bagian Barat. Didukung dengan berbagai potensi yang dimilikinya sebagai kota industri. Malah, kini di Kota Pelabuhan itu, sudah berdiri beberapa holding company yang fokus menggarap sawit. Sejumlah perusahaan pengolahan CPO di Dumai memiliki perkebunan sendiri dengan areal yang sangat luas.
“Makanya tak salah kalau kita bangun industri hilir sawit di sana, karena potensinya memang cocok,” kata Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau, Ferry HC, kepada riaubisnis.com, Kamis (22/9/2011) di Pekanbaru.
Di sisi lain, Disbun Povinsi Riau mencatat, produksi sawit di Riau telah mencapai 35 juta ton setiap tahunnya. Dari produksi sawit ini telah dihasilan CPO sebanyak tujuh juta ton setahun. Sementara itu, produksi cangkang sekitar 2,8 juta ton.
“Hasil itulah yang diekspor, dari hasil pengolahan sawit itu juga menghasilkan turunan seperti CPO sebanyak 22 persen, karnel 6 persen, cangkang 8 persen, fiber 15 persen, sludge 48 persen, dan air 18 persen,’’ ungkap Ferry.
Menurutnya, salah satu produk turunan yaitu cangkang meski sebelumnya dianggap sebagai bahan tak berguna, tetapi akhir-akhir ini cangkang sawit yang merupakan limbah hasil pengolahan CPO telah menjadi komoditi penting.
“Sebab banyak pengusaha yang memburu komoditi ini untuk keperluan industri lainnya. Dulu yang namanya cangkang sawit itu barang terbuang. Tapi sekarang cangkang malah digunakan berbagai keperluan industri,’’ terang Ferry.
Hanya saja pihak pabrik kelapa sawit (PKS) yang telah menghasilkan cangkang tersebut, justru mempergunakan komoditi itu sebagai bahan bakar PKS. Karena itu, saat ini tidak banyak lagi produksi cangkang yang bisa dipasarkan.
"Padahal, pihak yang akan menampung cangkang tersebut cukup banyak, karena saat ini komoditi turunan sawit itu mulai diperlukan dan bisa dimanfaatkan oleh berbagai keperluan selain dijadikan bahan bakar,” pungkasnya. (*)
Zuprianto | Edited by Parlindungan



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






