Belum genap sebulan petani karet di pulau Bengkalis menikmati harga karet yang sedikit membaik pada harga berkisar Rp 20.000-Rp 23.000 per kilogram, kini harga karet turun lagi yang berada di level Rp 17.000-Rp.18.000 per kilogram.

Turun harga karet sebagaimana diterangkan beberapa petani karet, akibat ulah oknum petani karet yang mencoba mengelabui pihak pengumpul dengan mengisi gumpalan karet dengan batu, pasir, bahkan juga ada dengan buah-buahan.
Ulah beberapa oknum petani yang nakal yang bermaksud untuk mendapatkan hasil jual karet dalam jumlah banyak dengan mengisi gumpalan karet dengan benda lain tersebut , mengakibatkan petani lainnya kesal, karena toke atau pihak pengumpul langsung menurunkan harga.
‘’Belum lagi sebulan harga karet naik yang memberikan angin segar bagi petani untuk dapat menambah pendapatan, sekarang harga turun lagi. Karena ulah segelintir petani yang nakal, mayoritas petani yang ada di pulau Bengkalis ini jadi tak dapat lagi menikmati harga tinggi sebagaimana yang kami rasakan belum sebulan ini,’’ tutur Badariah petani Bantan Air seperti yang dilansir Riaupos.com, Senin (28/2/2011).
Perempuan yang menghidupi 10 orang anaknya sendiri dari menoreh getah ini wajar kesal harga karet tiba-tiba turun lagi, karena ketika harga berada di level Rp23.000, dirinya dapat dengan enteng mengumpulkan uang hasil penjualan karet yang dikirimkan untuk biaya kuliah dua orang anaknya.
‘’Di desa lain, kabarnya ada petani yang menjual karet yang berisi pasir, buah nangka, bahkan baterai senter untuk memberatkan karet ketika ditimbang toke . Dan ternyata toke mengetahuinya saat karet itu dibelah. Kalau di tempat saya tak petani yang nakal seperti itu, tapi akibatnya dirasakan oleh semua petani, karena toke akhirnya menurunkan harga lagi,’’ ujarnya.
Sementara Yati petani dari desa Selatbaru, menyebut memang ada petani yang nakal yang ketahuan mengisi karet yang dijualnya dengan pasir dan lainnya. Saat dibelah oleh toke setelah karet itu ditimbang dan akan dibayar, menyembur pasir dari belahan karet yang dibelah tersebut.
‘’Akibat ulah segelintir petani, kita yang rugi. Barulah sekitar tiga minggu kita merasakan harga karet yang sedikit membaik, sekarang turun lagi,’’ sesal Yati.
Tak menentunya harga karet di pulau Bengkalis, bahkan jauh dibawah harga yang berlaku di Pekanbaru, juga dituding akibat tak adanya perhatian dari Asosiasi Karet dan Pemkab Bengkalis.
‘’Hanya karena ulah beberapa orang petani yang nakal, toke menjadikan itu sebagai alasan menurunkan harga. Sementara sebelumnya ketika harga sudah mulai naik, kenaikannya juga tak jauh dari harga yang berlaku di Pekanbaru. Padahal kualitas karet pulau Bengkalis taklah jelek-jelek sangat. Kalau saja ada perhatian dari Asosiasi Karet maupun Pemkab Bengkalis atas nasib petani karet di pulau Bengkalis ini, tentunya toke karet yang seenaknya bisa menurunkan harga seperti sekarang,’’ ujar Poniran warga Bengkalis yang prihatin akan nasib petani karet di Bengkalis.(*)
Mg1 I Edited by Heru/ Parlindungan



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






