Fauzi Ichsan, Ekonom Senior Standard Chartered Bank mengatakan, BI harus mulai mempertimbangkan untuk menaikkan BI rate seiring kenaikan inflasi pada akhir tahun ini. Suku bunga Bank Indonesia (BI rate) diproyeksikan sulit bertahan di level 6,5 persen dan akan naik ke angka 7 persen pada akhir 2010.
"Ya, memang ada tekanan dari pengusaha untuk tidak menaikkan suku bunga. Tapi kalau inflasi naik terus, rupiah ada tekanan, karena BI behind the curve, BI harus mulai mempertimbangkan lagi (BI Rate," jelasnya, di Jakarta, Rabu (1/9/2010) seperti dilansir Bisnis.com.
Fauzi mengatakan, kenaikan suku bunga belum tentu akan menaikkan bunga kredit. Menurut dia, kenaikan BI rate 0,5 persen sampai 1 persen tidak akan berdampak pada kenaikan bunga kredit jika iklim sektor riil bagus. "Kalau sektor riil baik, kompetisi perbankan ketat. Dengan sendirinya suku bunga kredit akan turun. Net interest margin juga turun," katanya.
Dia juga menambahkan, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) di Indonesia berada di level 5 persen hingga 6 persen. Sementara di China 2 persen sampai 3 persen. "Alasannya beragam. Antara lain tingkat risiko. Jadi memang sektor riil yang harus diperbaiki," katanya.
Perbankan, lanjutnya, industri kapitalis. Jika sektor riil kuat, perbankan akan menggenjot pembiayaan ke sektor tersebut. "Awalnya dari proyek infrastruktur. Kalau dipercepat, otomatis industri subkontraktor dan kontraktor akan perlu pembiayaan. Kalau infrastruktur baik, dengan sendirinya sektor swasta akan meningkat," katanya.
Sementara itu, persoalan yang serupa, Bank Indonesia disarankan tidak terlambat menaikkan suku bunga acuan BI Rate guna mengantisipasi tingginya laju inflasi. "BI Rate masih bisa dinaikkan 50 basis poin menjadi 7 persen hingga akhir tahun ini," ujar Chief Economist Bank Mandiri, Mirza Adityaswara di Jakarta, beberapa hari lalu seperti dilansir VIVAnews, Senin (23/82010).
Dia menekankan, sejumlah negara lain sudah menaikkan suku bunga, namun BI tampaknya masih menunggu. Menurutnya, jangan sampai pasar telah mengantisipasi tingginya suku bunga, sedangkan BI justru terlambat melakukan. "Kita mengalami capital inflow ke Indonesia, bahkan akan terus masuk hingga 2011. Biasanya dalam kondisi enak kita justru harus waspada," katanya.
Â
Menurut dia, jangan sampai bank sentral terlena dengan kondisi sekarang. Apalagi, dengan keyakinan bahwa peringkat utang yang akan mencapai peringkat investasi (investment grade). "BI jangan terlambat untuk menaikkan suku bunga karena akan menyebabkan koreksi investor asing," ujarnya.
Bahkan, dia mengingatkan, semestinya BI merespons tingginya inflasi sejak bulan lalu. Hal itu bukan hanya karena tingginya bahan pangan, namun juga tingginya permintaan sehinga perlu direspons secara moneter oleh BI.(*)
Parlindungan | Edited by Rbc



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 







