Nilai Tukar Petani Nelayan (NTPN) di Riau pada April 2011 cuma 92,28. Bukti nelayan di Riau masih belum sejahtera, karena angka NTP-nya masih di bawah standar ideal minimal 100.
“Artinya nelayan di Riau masih belum sejahtera, karena dari angka NTP-nya masih di bawah standar ideal minimal 100,” ujar Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, Tambar Malem Bangun, kepada riaubisnis.com, Jumat (6/5/2011) di Pekanbaru.
Tambar menilai, belum sejahteranya kaum nelayan di Riau, disebabkan beberapa faktor. Yakni, masih rendahnya pendapatan nelayan akibat minimnya hasil tangkapan mereka. Keadaan ini diperparah dengan cuaca yang kadang kala tak bersahabat. Belum lagi peralatan produksi mereka yang masih belum memadai.
“Nelayan di Riau kebanyakan masih tradisional dan sangat tergantung dengan alam. Kalau cuaca jelek tentunya mereka tidak bisa melaut dan mencari ikan. Akibatnya mereka tidak mendapat pemasukan dan ini membuat NTP mereka juga rendah karena hasil penerimaan kalah dengan biaya produksinya,” terang Tambar.
Sementara itu, BPS Riau juga mencatat pada April 2011, NTP di Riau mencapai 105,30. Atau naik 0,2 persen dibanding NTP Maret 2011 yang sebesar 105,09. Kenaikan ini disebabkan indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,38 persen relatif lebih kecil dibandingkan penurunan indeks harga yang dibayar petani yang mencapai 0,58 persen.
Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 111,97, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 113,62, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 105,16, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 101,30.
Tambar menjelaskan, komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya penurunan indeks harga yang diterima petani (It) terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat yang disebabkan turunnya harga kelapa sawit dengan andil sebesar 2,57 persen.
Sementara komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya penurunan indeks harga yang dibayar petani (Ib) terjadi pada subsektor tanaman pangan antara lain disebabkan turunnya harga cabe merah dengan andil sebesar 0,31 persen, beras sebesar 0,23 persen, gula pasir dan telur ayam masing-masing sebesar 0,09 persen, kakap sebesar 0,06 persen, lele sebesar 0,05 persen, jeruk dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,04 persen, gabus dan bensin eceran masing-masing sebesar 0,03 persen, serta kerang sebesar 0,02 persen.
Pada April 2011, terjadi deflasi di daerah desaan Provinsi Riau sebesar 0,78 persen. Deflasi terjadi karena turunnya indeks harga yang terjadi hampir pada semua kelompok pengeluaran konsumsi rumah tangga. Yaitu, kelompok bahan makanan sebesar 1,48 persen, kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 0,45 persen, kelompok makanan jadi, rokok dan tembakau sebesar 0,29 persen, serta kelompok sandang sebesar 0,27 persen.
Sedangkan kelompok lainnya mengalami kenaikan yaitu kelompok perumahan sebesar 0,43 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,07 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,02 persen.
“Laju inflasi daerah pedesaan di Riau pada April 2011 sebesar -0,78 persen. Sementara itu inflasi year-on-year sebesar 7,07 persen dan inflasi kumulatif Januari-April 2011 sebesar 1,08 persen,” pungkas Tambar. (*)
Zuprianto | Edited by Parlindungan



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






