Kaum nelayan di Riau masih belum sejahtera. Buktinya, Badan Pusat Statistik (BPS) Riau mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Nelayan di Riau pada Februari lalu cuma 92,21.
“Padahal idealnya angka NTP itu minimal 100. Kalau di bawah segitu bisa disebut belum sejahtera,” kata Pengamat Pertanian Riau, Fachri Yasin kepada riaubisnis.com, Senin (14/3/2011) di Pekanbaru.
Menurut Fachry, belum sejahteranya kaum nelayan di Riau disebabkan beberapa faktor. Yakni, masih rendahnya pendapatan nelayan akibat minimnya hasil tangkapan mereka. Keadaan ini diperparah dengan cuaca yang kadang kala tak bersahabat.
“Nelayan di Riau kebanyakan masih tradisional dan sangat tergantung dengan alam. Kalau cuaca jelek tentunya mereka tidak bisa melaut dan mencari ikan. Akibatnya mereka tidak mendapat pemasukan,” tuturnya.
Melihat hal ini, Fachry menilai, Pemda harus turun tangan. Caranya, menurut dia, dengan memberi bantuan operasional kepada nelayan. Misalnya dengan memberi sarana dan prasarana nelayan yang lebih modern dan subsidi BBM.
“Selama ini biaya operasional nelayan termasuk tinggi karena mereka membeli BBM dengan harga lebih mahal dari yang biasa dijual di pasaran.Sudah sewajarnya, Pemda mengambil kebijakan dengan memberi subsidi BBM kepada para nelayan,” terang dia.
“Berikan juga peralatan yang lebih modern supaya tingkat produksi mereka lebih baik, pelatihan manajemen usaha perikanan dan fasilitasi untuk membuat koperasi nelayan. Itu yang seharusnya dilakukan Pemda untuk mendukung ksejahteraan nelayan di Riau,” tambah Fachri. (*)
Zuprianto | Edited by Parlindungan



arabic
chinese
english
german
indonesian
japanese
korean
malay
russian 






